Salvaro yang sudah terduduk di atas sofa empuk di dalam kamar Inggi, sambil mengempu cantiknya masih tetap menerima sebuah ‘silent treatment’ oleh sang kekasih. Pasalnya, Inggi tetap sibuk dengan ponselnya sembari Salvaro memohon-mohon pada dirinya.

Maminya yang mengetahui sikap Inggi yang teguh pada prinsipnya, akhirnya melenggangkan diri keluar dari kamar sang anak sulung. Ia hanya mengusap punggung Salvaro alih-alih untuk memberitahu untuk bersabar dengan sikap si cantik.

“Sayangku maaf, maaf kamu jadi sakit hati karena omongan Mamaku, maaf, ya, sayang?”

“Sayang ayo bicara jangan diem terus, sayang…, sayang…”

“Tas birkinnya udah aku bawa sayang, di cek dulu mau? Kalau ada yang lecet aku ganti, ya, sayang?”

“Sayang, ayo bicara, jangan diem…”

Inggi yang kemudian melihat wajah memelas kekasihnya berniat bicara.

“Gimana Mama kamu? Udah dikasih tau caranya ngehargain orang gimana?”

“Iya, sayang, nanti aku kasih tau. Aku juga capek dan bingung harus gimana.”

“Ya, bilangin aja, yang tegas dong. Kamu diem gini aja, ya, jelas gampang diatur-atur sama dia. Udah tau Mama kamu begitu, dan kamu malah no action sama sekali.”

“Tapi, aku kadang ga tega, sayang.”